JAKARTA, sekitarjatim.com – Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI). Destry diproyeksikan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut pada akhir Juli 2026.
Pengajuan nama Destry telah disampaikan pemerintah kepada DPR untuk menjalani proses persetujuan. Sebelumnya, Destry menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan sempat menjalankan tugas sebagai gubernur sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Apabila mendapat persetujuan DPR, Destry akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia secara permanen.
DPR memiliki waktu satu bulan untuk memberikan persetujuan atau menolak calon yang diajukan Presiden.
Pencalonan Destry mendapat perhatian dari kalangan pasar keuangan. Pengumuman tersebut berlangsung setelah Perry Warjiyo secara mengejutkan mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI.
Nilai tukar rupiah kemudian menguat dan berada pada posisi terbaik terhadap dolar Amerika Serikat sejak 18 Juni 2026.
Ekonom DBS Radhika Rao menilai pengalaman Destry di Bank Indonesia dan sektor pasar keuangan menjadi modal penting dalam menjalankan tugas sebagai calon gubernur bank sentral.
“Pencalonan Destry kemungkinan akan diterima dengan baik oleh pasar, mengingat pengalamannya yang luas di bank sentral serta pasar keuangan domestik,” kata Radhika.
Menurut dia, Destry diperkirakan akan menjaga kesinambungan kebijakan moneter, terutama dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.
“Dia secara tegas menekankan perlunya menstabilkan mata uang dan diperkirakan akan mencerminkan kesinambungan kebijakan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian. Menurutnya, Destry merupakan sosok yang memahami kondisi pasar keuangan dan cenderung mengambil kebijakan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
“Dia sangat memahami pasar keuangan, sehingga sikap kebijakannya cenderung mencerminkan keseimbangan antara inflasi, stabilitas rupiah, arus modal, dan transmisi kebijakan moneter terhadap perekonomian domestik,” kata Fakhrul.
Destry, yang kini berusia 62 tahun, memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan. Ia pernah bekerja di Citibank dan Bank Mandiri sebelum menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 2015-2019.
Setelah itu, Destry bergabung dengan Bank Indonesia dan dipercaya menduduki posisi Deputi Gubernur Senior sejak 2019. Ia meraih gelar master dari Cornell University, Amerika Serikat.
Di sisi lain, pencalonan Destry juga menjadi perhatian terkait independensi Bank Indonesia. Hal itu berkaitan dengan meningkatnya koordinasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan hubungan kerja yang baik antara Destry dan pemerintah dapat membantu mengurangi perbedaan dalam pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Namun, menurutnya, pasar tetap akan memperhatikan batas independensi bank sentral.
“Destry dipandang memiliki hubungan kerja yang kuat dengan pemerintah dan menteri keuangan. Hal itu dapat menjadi kekuatan karena mampu mengurangi gesekan antara kebijakan fiskal dan moneter. Namun, pasar akan membedakan secara tegas antara koordinasi dan subordinasi,” kata Josua.
Bank Indonesia saat ini menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung agenda pertumbuhan pemerintahan Prabowo. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen.
Di tengah target tersebut, BI tetap dituntut menjaga inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kondisi sektor keuangan.
Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Sementara itu, masih menunggu kepastian mengenai masa jabatan Destry apabila nantinya disetujui DPR, apakah akan menjalani masa jabatan penuh atau melanjutkan sisa masa jabatan Gubernur BI sebelumnya yang berakhir pada 2028.(*)






