Dari Sastra Inggris ke Psikologi: Cerita Saya Nekat Lintas Jurusan di Bangku Magister

  • Bagikan
Dari Sastra Inggris ke Psikologi: Cerita Saya Nekat Lintas Jurusan di Bangku Magister
Foto: Siska Nihayatul Khusna

Teras EsJe“Sastra Inggris kok ambil psikologi?” Saya sudah kehilangan hitungan berapa kali pertanyaan itu mampir — saat berbincang dengan rekan, keluarga, bahkan saat saya sendiri menimbang-nimbang keputusan ini diam-diam. Jujur saja, pertanyaan yang sama juga sempat saya ajukan pada diri sendiri berkali-kali. Namun hari ini, di ruang PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus) Magister Psikologi UIN Malang, pertanyaan itu akhirnya menemukan jawabannya — bukan dari orang lain, tapi dari satu percakapan singkat yang akan saya ceritakan nanti.

Latar belakang S1 saya adalah Sastra Inggris — rumpun ilmu humaniora yang akrab dengan teks, bahasa, dan narasi manusia, tetapi jarang dianggap berkaitan langsung dengan psikologi sebagai disiplin ilmu formal. Wajar kalau kemudian banyak yang bertanya, termasuk diri saya sendiri, ketika saya memutuskan melanjutkan studi ke jenjang magister psikologi: apa hubungannya?

Jawabannya, bagi saya, ada di keseharian saya selama ini. Sebagai konselor pesantren sekaligus guru tahfidz Al-Qur’an di Al-Izzah International Islamic Boarding School, saya berhadapan langsung dengan dinamika psikologis santri — dari persoalan adaptasi, tekanan akademik, relasi sosial, hingga pergumulan emosi khas usia remaja. Pengalaman itulah yang perlahan meyakinkan saya bahwa psikologi bukan sekadar disiplin ilmu baru yang saya pelajari dari nol, melainkan kerangka teoritis yang akan memperkuat dan memperdalam apa yang selama ini saya kerjakan secara praktis.

Meski begitu, keraguan tidak serta-merta hilang begitu saya dinyatakan diterima. Keraguan itu baru benar-benar mereda — bahkan berubah menjadi keyakinan — setelah saya mengikuti rangkaian PBAK selama tiga hari, dan terutama setelah satu percakapan singkat yang mengubah cara saya memandang seluruh keputusan ini.

Ruang Konsultasi Personal: Saat PBAK Menghadirkan Dosen Pendamping

Dari seluruh rangkaian PBAK, momen yang paling berkesan bagi saya adalah sesi pendampingan penentuan topik tesis. Alih-alih sekadar pemaparan satu arah seperti bayangan saya tentang pengenalan kampus pada umumnya, program studi merancang format konsultasi personal, setiap mahasiswa baru dipasangkan dengan satu dosen pembimbing untuk berdiskusi secara mendalam dan terbuka mengenai arah riset yang ingin ditekuni. Desain semacam ini terasa sederhana di atas kertas, tetapi dampaknya jauh lebih besar dari yang saya bayangkan — sebab di ruang itulah, untuk pertama kalinya sejak dinyatakan diterima, saya benar-benar diajak bicara tentang riset saya sendiri, bukan sekadar diperkenalkan pada sistem perkuliahan.

BACA JUGA:  Puasa Arafah, Ini Hukum bagi yang Masih Punya Utang Puasa Ramadan

Saya masih ingat betul saat dosen pendamping saya bertanya, “Jadi selama ini Anda mendampingi santri di pesantren, ya? — lalu, riset seperti apa yang menurut Anda paling dibutuhkan oleh mereka?” Pertanyaan itu sederhana, tapi menohok. Selama ini saya terbiasa berpikir dari sudut pandang “apa yang layak diteliti secara akademik”, bukan “apa yang benar-benar dibutuhkan orang-orang yang saya dampingi setiap hari”. Di titik itu saya sadar: pengalaman lapangan saya bukan beban yang harus saya jelaskan relevansinya, melainkan justru sumber pertanyaan riset yang paling jujur.

Bagi mahasiswa lintas jurusan seperti saya, pendampingan semacam ini terasa seperti cara paling konkret untuk mulai menerjemahkan pengalaman lapangan menjadi bahasa akademik psikologi.

Bekal Keterampilan Akademik sebagai Fondasi Riset

Percakapan itu juga membuat saya lebih siap menyerap materi-materi lain yang dibekalkan selama PBAK: pengelolaan bibliografi digital (digital bibliography management), pemanfaatan AI tools untuk scoping review (kajian pemetaan literatur secara sistematis), hingga kiat-kiat menembus publikasi ilmiah. Materi-materi ini terasa relevan sekali, sebab saya sadar bahwa dua hingga tiga semester ke depan akan diwarnai oleh riset, penulisan, dan publikasi ilmiah — dan sejak awal kami sudah dibekali alatnya, bukan dibiarkan meraba-raba sendiri.

Yang membuat semangat saya semakin membara adalah kebijakan program studi yang mendorong mahasiswa menyelesaikan studi dalam 3 semester. Target ini memang menuntut, tetapi bagi saya justru menjadi pemantik: sebuah tanda bahwa program ini dirancang serius dan terstruktur, bukan sekadar mengejar durasi normatif.

Program-Program yang, Satu per Satu, Menjawab Keraguan Saya

Kekhawatiran terbesar saya sebagai mahasiswa lintas jurusan tentu saja soal kesiapan fondasi keilmuan. Namun, setelah resmi menjadi mahasiswa baru, saya menemukan bahwa Magister Psikologi UIN Malang telah merancang sejumlah program yang justru menjawab kekhawatiran itu satu per satu. Ada program matrikulasi bagi mahasiswa dengan latar belakang S1 non-psikologi, sehingga fondasi keilmuan psikologi dibangun sejak awal secara terarah — bagi saya, ini adalah jaring pengaman yang membuat kekhawatiran soal “ketinggalan dasar teori” akhirnya bisa saya turunkan. Ada pula thesis camp, ruang intensif untuk menggarap tesis bersama pendampingan yang jelas, sesuatu yang, jujur, belum pernah saya temui seintensif ini bahkan di jenjang S1 saya dulu. Ditambah lagi Diskusi Optimis, obrolan penelitian rutin setiap hari Kamis, tempat mahasiswa saling berbagi progres dan gagasan riset secara informal namun konsisten, mendengar namanya saja sudah membuat saya membayangkan forum yang hangat, bukan sekadar wajib hadir.

BACA JUGA:  Ketika Seorang Sosialis Mencari Arti

Yang tidak kalah penting, program studi juga membuka kolaborasi riset dosen dan mahasiswa, yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proyek penelitian dosen, bukan hanya belajar teori di kelas, ini poin yang paling membuat saya optimis bahwa lintas jurusan bukan halangan untuk berkontribusi nyata. Dan yang paling membuat saya antusias adalah program international student exchange (pertukaran mahasiswa internasional) dan international collaborative research (riset kolaboratif internasional). Sejak mendengar kedua program ini, saya diam-diam menaruh harapan besar untuk bisa terlibat di dalamnya, sebuah peluang yang rasanya tidak pernah saya bayangkan akan hadir ketika dulu saya masih ragu mengambil langkah lintas jurusan.

Untuk Kamu yang Masih Ragu Lintas Jurusan

Jika hari ini kamu sedang berada di posisi saya beberapa bulan lalu — ragu, bertanya-tanya, merasa latar belakang S1 mu “tidak nyambung” — saya ingin mengatakan: kamu tidak sendirian, dan keraguan itu wajar.

Di antara teman-teman satu angkatan saya, ada yang berasal dari S1 Teknik Sipil, PGSD, PIAUD, dan berbagai jurusan lain yang tidak linear. Kami datang dari jalan yang berbeda-beda, tetapi dipertemukan oleh keyakinan yang sama bahwa psikologi punya ruang bagi siapa saja yang membawa pengalaman dan perspektif baru ke dalamnya.

Tiga hari PBAK ini mengajarkan saya satu hal penting: keraguan tidak perlu menjadi alasan untuk mundur, selama kita memilih tempat yang mendukung proses belajar itu sendiri. Dan bagi saya, di sinilah tempat itu.

Sampai jumpa di semester-semester penuh riset ke depan.

_____
*Penulis: Siska Nihayatul Khusna

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *