Khidmah dan Keikhlasan untuk Masyarakat: Pengajian Rutin Ba’dha Subuh

  • Bagikan
Khidmah dan Keikhlasan untuk Masyarakat: Pengajian Rutin Ba’dha Subuh

Teras EsJe – Saat tetes-tetes embun bersemayam dalam pepohonan sembari menunggu terik sinar mentari, terdengar suara sholawat dengan pengeras suara serta bebarengan dengan gesekkan bunyi sandal orang-orang yang menuju sebuah musholla atau kami biasanya menyebut dengan langgar, lebih tepatnya sebuah langgar sederhana yang terletak di dusun Kedung Bahak, sebuah dusun yang berada di pojok tenggara Kabupaten Sidoarjo, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan, dengan batasnya merupakan aliran sungai Brantas Kuno yang masyarakat sekitar menyebut dengan Kalimati.

Langgar tersebut diberi nama “Miftahul Jannah”, berada tepat di dalam Sekolah Menengah Pertama “Miftahul Ulum.” Pengajian rutin itu tepat dimulai pada jam 5 pagi setelah sholat subuh dan berakhir sejam kemudian, atau lebih tepatnya jam 6 pagi. Awalnya, pengajian rutin ba’dha subuh tersebut merupakan suatu bentuk inisiatif para takmir langgar sebagai bagian dari upaya untuk meramaikan sholat jama’ah dalam langgar yang diberi nama Miftahul Jannah itu, apalagi mengingat bahwa musholla tersebut terbilang baru berdiri, yaitu sekitar 4 tahun yang lalu.

BACA JUGA:  5 Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Berbasis Islam di Indonesia dan Sejarah Pembentukannya, Mahasiswa Harus Tahu!

Oleh karena itu, para inisiator yang terdiri dari H. Kholil, H. Mukhlis, Bapak Thosim, Bapak Yono, Bapak Tajeri, Bapak Sholeh, dan Bapak Nur Hapi, berupaya mengenalkan serta meramaikan mushola Miftahul Jannah kepada masyarakat sekitar, dengan harapan bertambahnya jama’ah tetap saat waktu sholat tiba. Pengajian rutin ba’dha subuh tersebut telah berlangsung sekitar setahun lebih, dengan awalnya 20-an orang yang datang, kini bertambah sekitar 80-an lebih dengan harapan jama’ah pengajian semakin meningkat jumlahnya.

Pengajian rutin ba’dha subuh tersebut diasuh oleh Gus Rofiq, dengan pertama-tama membahas mengenai Bab Thaharoh, dan kini mulai memasuki pembahasan mengenai Bab Adab dan Akhlak. Akan tetapi, selama berlangsungnya pengajian rutin ba’dha subuh yang diakhiri dengan makan bersama itu, terdapat beberapa kendala, seperti beberapa pihak yang tidak menyetujui diadakan pengajian tersebut di mushola Miftahul Jannah, karena dianggap sebagai upaya untuk merebut jama’ah di mushola atau masjid yang sudah berdiri sebelumnya, sehingga kemudian hal tersebut menimbulkan polemik.

BACA JUGA:  5 Tips Memilih Kampus Untuk Calon Mahasiswa Baru yang Harus Diketahui Agar Tidak Menyesal

Namun, para inisiator tetap berpegang teguh pada pendirian bahwa pengajian tersebut harus tetap berlangsung, karena manfaatnya yang dirasakan oleh masyarakat sekitar sebagai ruang untuk menambah ilmu dan mempererat hubungan sosial. Tak hanya itu, tantangan selanjutnya adalah perihal bagaimana mengajak anak muda untuk turut serta mengikuti pengajian yang berlangsung setelah subuh itu, karena jama’ah yang menghadiri pengajian itu rata-rata adalah orang tua yang telah berumur.

Oleh karena itu, para inisiator berharap bahwa para jama’ah juga berupaya mengajak keluarga mereka, terutama anak-anak mereka untuk datang mengikuti pengajian rutin ba’dha subuh, mengingat bahwa anak-anak muda tersebut adalah generasi penerus masyarakat Kedung Bahak di kemudian hari. Maka dari itu, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa, “tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *