Jakarta, SekitarJatim.com — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan empat penyakit utama yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan stroke berada di posisi teratas. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
“Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke. Ini pembunuh nomor satu dengan angka kematian mencapai 300 ribu jiwa per tahun,” ujar Budi dalam acara Double Check: Bagaimana Visi Kesehatan Era Prabowo? di Galeri Cemara 6, Teater Heraty Museum, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2025).
Ia menambahkan, setiap menitnya, seseorang yang mengalami stroke kehilangan sekitar 1,9 juta sel otak. Kondisi ini menandakan urgensi deteksi dan penanganan dini terhadap penyakit tersebut.
Peringkat kedua ditempati oleh penyakit jantung. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penyakit kardiovaskular secara keseluruhan menyebabkan 651.481 kematian per tahun. Dari jumlah tersebut, stroke menyumbang 331.349 kematian, diikuti penyakit jantung koroner sebanyak 245.343 kematian, dan penyakit jantung hipertensi sebanyak 50.620 kematian.
“Jantung ada di urutan kedua. Banyak keluarga kita pasti pernah mengalami penyakit ini,” kata Budi.
Penyakit kanker menempati posisi ketiga sebagai penyebab kematian. Menurut Menkes, kanker merupakan salah satu penyakit kronis yang sangat berisiko jika tidak terdeteksi sejak dini. Ia bahkan menyebut kedua orang tuanya pernah menderita kanker.
“Orang tua saya pernah mengalami kanker dan stroke. Ini penyakit yang nyata dan dekat dengan banyak keluarga di Indonesia,” ungkapnya.
Penyakit keempat yang paling mematikan adalah gagal ginjal. Meskipun tidak menyebabkan kematian secara langsung dalam waktu singkat, kerusakan fungsi ginjal bersifat progresif dan dapat berujung pada kematian jika tidak ditangani.
“Kerusakan ginjal biasanya berlangsung bertahun-tahun. Dalam 4 hingga 5 tahun, jika tidak ditangani, bisa menyebabkan kematian. Banyak pasien akhirnya bergantung pada cuci darah atau transplantasi ginjal,” jelas Budi.
Ia menegaskan bahwa keempat penyakit tersebut merupakan penyakit kronis yang memerlukan perhatian jangka panjang, serta pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan utama.(*)






