Grup Salim Masih Pertahankan Kepemilikan Saham BUMI, Data Terbaru BEI Ungkap Struktur Pemegang Saham

  • Bagikan
Grup Salim Masih Pertahankan Kepemilikan Saham BUMI, Data Terbaru BEI Ungkap Struktur Pemegang Saham

JAKARTA, sekitarjatim.com – Struktur kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi sorotan setelah data terbaru yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kelompok usaha Salim masih mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemegang saham utama di perusahaan tambang batu bara tersebut.

Keterbukaan data ini muncul setelah BEI mulai mempublikasikan daftar pemegang saham emiten dengan porsi kepemilikan di atas 1 persen. Kebijakan tersebut memungkinkan publik melihat lebih jelas siapa saja pihak yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perusahaan terbuka di pasar modal.

Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi di pasar modal sekaligus memberikan akses informasi yang lebih luas bagi investor.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis melalui sistem keterbukaan informasi bursa, entitas yang terafiliasi dengan Grup Salim masih mempertahankan kepemilikan sahamnya di emiten berkode BUMI tersebut. Tidak terlihat adanya aksi pelepasan saham dalam jumlah signifikan dari kelompok usaha tersebut hingga periode awal 2026.

Keberadaan Grup Salim di struktur pemegang saham BUMI sendiri telah lama menjadi perhatian pelaku pasar. Pasalnya, konglomerasi tersebut dikenal sebagai salah satu pemain besar dalam sektor energi dan sumber daya alam di Indonesia.

BACA JUGA:  Kenang Pahlawan Veteran, Pj Bupati Pamekasan Serahkan Bantuan Sembako

Salah satu entitas yang terkait dengan Grup Salim, yakni Mach Energy (Hongkong) Limited, tercatat sebagai pemegang saham terbesar di BUMI. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), perusahaan tersebut menguasai sekitar 170 miliar saham atau setara 45,78 persen dari total saham yang beredar.

Selain Mach Energy, sejumlah institusi keuangan global juga tercatat sebagai pemegang saham signifikan di BUMI. Di antaranya UBS Switzerland AG dengan kepemilikan sekitar 5,10 persen saham, Cris Developments Limited sebesar 3,98 persen, serta Treasure Global Investments Limited sekitar 3,18 persen.

Adapun PT Bakrie Capital Indonesia, yang merupakan bagian dari Grup Bakrie, juga masih memiliki porsi kepemilikan sekitar 1,18 persen saham perseroan.

Struktur kepemilikan tersebut mencerminkan bahwa pengendalian perusahaan masih berada di tangan dua kelompok usaha besar, yakni Grup Salim dan Grup Bakrie. Bahkan, dalam laporan keterbukaan informasi perusahaan sebelumnya disebutkan bahwa Anthony Salim dan Nirwan Bakrie tercatat sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) BUMI.

Analis pasar menilai bertahannya kepemilikan Grup Salim memberikan sinyal positif bagi stabilitas saham BUMI di pasar. Dengan posisi sebagai pemegang saham utama, langkah strategis yang diambil kelompok usaha tersebut kerap menjadi indikator bagi investor dalam membaca prospek perusahaan.

BACA JUGA:  Ramadan Penuh Berkah, JMP dan Pegadaian Syariah Pamekasan Santuni Puluhan Anak Yatim

Selain itu, kebijakan BEI yang memperluas akses data kepemilikan saham dinilai dapat mengurangi asimetri informasi di pasar modal. Dengan data yang lebih transparan, investor ritel maupun institusi kini dapat memantau pergerakan kepemilikan saham secara lebih detail.

Pengamat pasar juga menilai keterbukaan informasi tersebut dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap emiten. Transparansi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga integritas pasar sekaligus memperkuat tata kelola perusahaan publik.

Di tengah dinamika pasar komoditas global, saham-saham sektor energi, termasuk batu bara, masih menjadi perhatian investor. Posisi Grup Salim yang tetap bertahan di BUMI dinilai mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang bisnis energi berbasis sumber daya alam.

Dengan struktur kepemilikan yang kini semakin terbuka, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati setiap perubahan komposisi pemegang saham di BUMI. Pergerakan investor besar di emiten tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan arah perdagangan saham ke depan.(*/FIR)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *