Puasa Arafah, Ini Hukum bagi yang Masih Punya Utang Puasa Ramadan

  • Bagikan
Puasa Arafah, Ini Hukum bagi yang Masih Punya Utang Puasa Ramadan
Ilustrasi/Dok. Istimewa.

Teras EsJe — Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dengan penetapan tersebut, maka puasa sunnah Arafah jatuh pada Kamis, 5 Juni 2025. Umat Islam di seluruh dunia, kecuali mereka yang sedang menjalankan ibadah haji, dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah ini guna meraih keutamaan yang besar.

Puasa Arafah dikenal memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim, bahwa siapa pun yang menjalankannya akan diampuni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Namun, menjelang pelaksanaan puasa ini, muncul pertanyaan dari sebagian masyarakat: bagaimana hukum puasa Arafah jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan?

Bolehkah Puasa Arafah Jika Masih Punya Qadha?

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Ustadz Alhafiz Kurniawan, menjelaskan bahwa pada dasarnya, utang puasa Ramadan harus diqadha terlebih dahulu. Namun demikian, ia menegaskan bahwa jika seseorang ingin menggabungkan niat qadha dengan puasa Arafah, maka hal itu diperbolehkan dan sah secara fikih.

BACA JUGA:  Mengenal CLS (Critical Legal Studies Movement) Lebih Dekat

“Jika utang puasa baru diingat menjelang hari Arafah, maka disarankan untuk membayar utang puasanya di hari tersebut. Dengan niat qadha, ia tetap mendapatkan pahala puasa Arafah,” ujar Alhafiz, dikutip dari NU Online, Rabu (4/6/2025).

Alhafiz merujuk pada pendapat ulama klasik seperti Syekh Zakariyah Al-Anshari dalam Asnal Mathalib, serta Sayyid Bakri dalam I’anatut Thalibin.

Perbedaan Pendapat Ulama

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh sebagian ulama yang tidak membolehkan penggabungan niat antara puasa wajib dan sunnah. Dalam buku Panduan Praktis Ibadah Puasa karya Drs. E. Syamsuddin dan Ahmad Syahirul Alim, dijelaskan bahwa penggabungan niat semacam itu dapat mengurangi keutamaan puasa sunnah Arafah.

BACA JUGA:  Kaderisasi PMII Menggunakan Pendekatan TARL (Teaching At Right Level)

Namun, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa menyatakan bahwa seseorang masih dibolehkan mengerjakan puasa sunnah jika masa pelunasan utang Ramadan belum mendesak. Ia mengibaratkan hal ini seperti salat sunnah yang tetap sah dilakukan selama waktu salat wajib belum habis.

Puasa Arafah merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki nilai keutamaan besar. Meski sebagian ulama berbeda pendapat soal penggabungan niat antara puasa qadha dan puasa Arafah, mayoritas membolehkan dengan tetap mengedepankan niat qadha sebagai yang utama.

Bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadan, disarankan untuk melunasinya. Namun, jika ingin berpuasa pada hari Arafah sekaligus mengqadha puasa wajib, hal itu tetap diperbolehkan menurut sejumlah pandangan ulama.

Wallahu a’lam.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *