Topi Jerami di Tengah Lanskap Politik.
“One Piece itu Nyata!” adalah kalimat terakhir yang diucapkan Whitebeard saat menjelang kematiannya di Marineford, demikian kepingan yang berharga itu dicari oleh para bajak laut di dunia one piece, yang kemudian semakin memicu pencarian dari banyak kalangan-dengan berspekulasi dan turut menjadi bajak laut untuk one piece. Seperti Cross Guild lain dari dunia nyata. Sementara Red Line mengisyaratkan keterpisahannya untuk menjangkau satu-sama lain.
One piece itu ada, sebagai sebuah pelajaran tentang arti kebebasan, pertemanan, dan rasa kebersamaan untuk membuat dunia lebih berwarna. Begitulah petualangan Monkey D. Luffy dalam menembus batas-batas impian menuju dunia baru. Keberaniannya untuk mengarungi lautan, hanya mungkin lahir dari pahit getirnya hari-hari yang sudah lalu. Sejak kecil, Luffy yang diasuh oleh Monkey D. Garp, kakeknya, sudah menunjukkan kemauan menjadi bajak laut, untuk hidup dalam pilihannya sendiri.
Sebelum berjumpa dengan Ace dan Sabo, Luffy bahkan sudah berjanji untuk menjadi bajak laut terkuat pada Shanks yang memberi topi jerami. Luffy memilih lautan seperti satu-satunya jalan yang bisa membuatnya merasa hidup, demikian Garp sudah membebaninya sejak awal. Sama seperti Ace, berat beban latihan yang Luffy dapat. Waktu bersama Garp hanya berisi latihan demi latihan, selain itu Garp tidak banyak meluangkan waktu, oleh sebab tugas sebagai Wakil Laksamana, Garp lalu menitipkannya pada bandit gunung.
Di bawah asuhan Dadan, sang bandit itu, Luffy bertemu Ace untuk pertama kali. Seperti menariknya pertemanan anak kecil, berselisih sejadi-jadinya, bercanda kemudian. Tetapi karena Ace tidak lantas menerimanya sebagai teman, untuk merebut kepercayaan, ada banyak penderitaan yang perlu dibayar. Pertemuannya dengan Ace membawanya bertemu dengan Sabo. Sebuah hari yang menandai kisah dari awal perjalanan hidup nan indah. Semenjak itu Luffy tidak lagi kesepian, tidak ada lagi yang membuatnya terluka. Begitu pula Ace dan Sabo, yang seringkali dibuat terhibur oleh Luffy walau lebih banyaknya dibuat kewalahan.
Sekalipun masing-masing lahir sebagai pewaris nama besar, tetapi di kawasan kumuh mereka bermain dan mempertaruhkan hidup, di hutan mereka tumbuh sebagai anak-anak yang menginginkan kebebasan. Mereka saling memberi warna satu sama lain. Suka duka, siang dan malam yang mereka lewati telah menyisakan hangatnya kebersamaan, mengikis habis rasa sepi yang sempat menyelimuti. Hingga di suatu waktu, mereka tidak ingin melepas kebersamaannya, dan berbagi secawan sake. Mereka berjanji menjadi saudara, berjanji untuk berlayar di lautan, suatu hari.
Namun seiring dengan mimpinya yang sama, sama kerasnya dalam bermimpi, mereka lalu memilih menjadi kapten bagi krunya masing-masing. Meski sudah berbagi mimpi, Luffy masih saja menunjukkan hasrat untuk lebih, lebih-lebih sejak pertemuannya dengan Shanks, karena itu Luffy bermimpi menjadi raja bajak laut. Seperti perlunya menemukan dorongan berambisi, Luffy terdorong untuk melampaui keduanya, Ace dan Sabo. Kelak oleh satu keinginannya itu, Luffy berjanji dan menjalani hidup.
Tidak peduli apa yang harus dihadapi, jikalau harus mati demi meraih impian, bagi Luffy tidak ada yang perlu disesali. Mungkin kenangan bersama Ace dan Sabo sudah cukup menjadi bekal terus melangkah. Seperti Ace dan Sabo yang lebih dahulu menyusuri lautan, Luffy percaya bahwa janji yang pernah diucapkan suatu hari akan mempertemukannya kembali. Namun malang, perjalanan Sabo justru berakhir sebagai kabar kematian yang memilukan. Tetapi mungkin begitulah cara lautan membentuk seseorang, yang sedari awal tidak pernah ramah bagi mereka yang tidak siap bertarung, kehilangan, atau melepas segalanya demi menemukan jati diri.
Ada hal yang perlu dibayar demi sebuah kebebasan, tanpa kesiapan untuk kehilangan, tanpa kerelaan untuk dianggap tidak penting, jati diri juga tidak akan pernah terbentuk. Tidaklah penting siapa Sabo, begitulah tragedi yang menimpanya di tangan kaum elite. Kepergian Sabo telah menyisakan sebuah isyarat, bahwa ternyata di lautan sama saja, ada tatanan yang diatur oleh kasta, kekuasaan, dan hak istimewa. Tidak ada perdebatan, tidak ada persidangan untuk mengadili Tenryubito atas nama pembunuhan. Sebaliknya, yang ada justru pertunjukkan dan penyambutan pada sang Tenryubito-sebuah dunia yang kemudian hari ternyata dijaga oleh Pemerintah Dunia atas nama ketertiban.
Sementara Luffy, yang tumbuh dengan rasa kehilangan, memilih tetap bertahan-berlatih. Keadaan memaksanya untuk tumbuh menjadi lebih kuat, hingga tiba gilirannya, Luffy menjadi yang terakhir mengarungi lautan dan berlayar. Segalanya bermula di lautan, di antara topi jerami, senyuman dan satu mimpi, Luffy yang berdiri di atas kapal kecil mulai mengayuh petualangan. Perjalanan lalu mempertemukannya dengan mereka yang tersingkir, diburu, atau gagal menemukan tempat untuk pulang, dan sejak itu Luffy membentuk kru, merajut keluarga baru dan berlayar di atas dek kapal yang sama.
Melalui ketulusannya, kayuhan kecil itu menjadi dekapan hangat bagi kemanusiaan yang telah dicabik-cabik oleh kejamnya struktur kekuasaan. Dari sanalah Topi Jerami lahir, dari dek Going Merry sampai Thousand Sunny, dari trauma masa lalu sampai sekat identitas yang sulit dipersatukan melebur menjadi tawa. Keragaman, tidak lagi menghalangi terjalinnya ikatan emosional yang mendalam. Di tangan Luffy, nama-nama yang sejak awal adalah buronan, pencuri, hingga seorang pembohong justru dirangkul menjadi teman. Masa lalu yang kelam tak pernah menghalangi Luffy untuk merangkul siapapun, menjadikannya keluarga. Dan itulah kekuatannya.
Sebagai rookie, Luffy cukup mampu menarik perhatian. Ia meruntuhkan kuasa tiran di pulau-pulau yang disinggahi, hingga meninggalkan jejak yang mulai mengguncang pilar stabilitas status quo (San Dai Seiryoku) Pemerintah Dunia. Sebab itu, Keberadaan Kru Topi Jerami bukan lagi sekadar simbol kriminalitas biasa, melainkan deklarasi atas hadirnya sebuah wilayah yang menolak didisiplinkan oleh otoritas pusat. Berkibarnya Jolly Roger Mugiwara, secara cepat menjelma bagai lambang subversi total terhadap tertib sosial daratan. Lahirnya bajak laut Topi jerami, menjadi sinyal perang bagi Angkatan Laut.
Terlebih, menjadi bajak laut berarti menjadi musuh Angkatan Laut, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Pemerintah Dunia. Sebagai pemegang otoritas tertinggi, Pemerintah Dunia memonopoli segalanya, memberi stempel siapa pahlawan dan siapa pencuri. Kejahatan dan keadilan kemudian menjadi kostum politik, hanya boleh ada satu yang mewakili keadilan dan yang lainnya adalah kejahatan. Narasi hegemoni ini menegaskan bahwa bajak laut adalah musuh yang akan selalu mengganggu ketertiban. Padahal bajak laut tetaplah bajak laut, membajak segalanya dari masyarakat.
Hal inilah yang kemudian membuka terjadinya klaster sosial dan menempatkan warga sebagai pihak ketiga, sekadar objek dari sirkus perebutan kekuasaan. Sementara pemerintah berhadapan dengan bajak laut, masyarakat hanya pasrah menyaksikan pertikaian yang menjemu itu. Seolah-olah yang penting diurus Angkatan Laut hanyalah keadilan demi keadilan. Sebab keadilan adalah segalanya. Apalagi yang tidak akan dibayar untuk keadilan? Sekalipun harus terjebak dalam konflik berkepanjangan, itulah keadilan.
Sayangnya, yang tersisa justru kerugian yang lebih besar. Kekuasaan (World Government) akhirnya membutuhkan sandaran untuk menjaga stabilitas, sampai-sampai membuka peluang membentuk sistem Shichibukai, bekerja sama dengan bajak laut dan melegitimasi kejahatan. Lalu terjadilah simbiosis mutualisme antara pemerintah dan bajak laut. Shichibukai lantas menjadi aliansi antara Pemerintah Dunia dan tujuh bajak laut kuat. Pemerintah memberi mereka status bajak laut legal, sah sebagai imbalan atas tugas militer dan perlawanan terhadap bajak laut dan ancaman lain yang menentang narasinya.
Sebagai bajak laut legal, mereka mendapat kebebasan untuk beroperasi, memiliki wilayah kekuasaan yang tak lagi tersentuh oleh hukum. Tetapi tugas utama bajak laut (Shichibukai) tetap saja membajak. Lewat sistem Shichibukai ini, hukum mempertontonkan kelucuannya, kejahatan bisa mendadak berubah menjadi tindakan patriotik yang sah. Di bawah bayang-bayang keadilan, hukum ternyata tidak lebih dari sebuah kerajinan tangan yang elastis-ia bisa ditekuk sedemikian rupa untuk merangkul kriminal kelas kakap.
Selama stabilitas kekuasan (World Government) tidak terganggu, tidak peduli seberapa licik Crocodile di Alabasta atau seberapa kejam Doflamingo di Dressrosa. Tetapi begitulah dunia bekerja, bahwa institusi resmi saja tidak cukup untuk bekerja pada alasannya dibentuk. Pemerintah sekalipun larut dibajak oleh mereka yang menemukan celah untuk menguasai dan memaksa sistem bekerja untuknya. Masalah pemerintah, akhirnya hanyalah akumulasi dari persoalan-persoalan individu-yang dimulai dari ketidakmampuannya duduk tenang menerima kenyataan. Kenyataan bahwa kekuasaan dan penderitaan sama saja, tiada akhirnya.
Pemerintah, lalu cukup berlaku sebagai bandar politik. Membenturkan sesama bajak laut, yang melalui instrumennya, menciptakan musuh, merekrut, menghancurkan dan hanya para Yonko yang memahami. Sementara dunia sibuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, hukum memberinya kepastian dan tiba-tiba menjadi adil. Namun di tengah hiruk-pikuk kekuasaan dan catur politik yang rumit itu, Luffy menanggalkan itu semua, dan memilih memikirkan daging.
Setiap kali jangkar diturunkan, ia mencari tempat untuk makan bersama kawan-kawannya dan memastikan tak ada perut yang kelaparan. Sebuah pilihan yang justru mengingatkan pada satu kebenaran yang jauh lebih tua daripada hukum mana pun. Mungkin ditengah sukarnya memperjuangkan kebebasan, hukum membutuhkan kepastian untuk adil. Tetapi bagi mereka yang lapar, satu-satunya kepastian adalah seporsi makanan. Sebab pada akhirnya, kebutuhan dasar manusialah yang menjadi ukuran apakah dunia itu adil atau tidak.
Keadilan Berarti Makan dengan Kenyang
Setelah lamanya Luffy meninggalkan Desa Foosha, desa kecil yang damai, ada satu hal yang tidak pernah berubah, bahkan saat namanya mulai tertulis dalam daftar buronan. Pamflet bertuliskan WANTED lengkap dengan harga yang disematkan itu, tidak sekali memengaruhi caranya tersenyum. Luffy tidak berubah, ia terlalu ringan beban untuk melepas apa yang dunia coba definisikan. Tidak peduli bahwa gelar bajak laut yang ia sandang adalah simbol kejahatan, bahkan menjadi Raja Bajak Laut seperti yang selalu diucapkan, lahir dari pemahamannya yang sederhana tentang kebebasan; agar ia bisa makan sebanyak yang ia mau, di mana pun.
Luffy hanya menikmati petualangan, ia tidak pernah memiliki cukup keseriusan selain ketertarikannya pada urusan daging. Kesungguhannya benar-benar terlihat bila menyangkut urusan perut, dari pulau ke pulau makananlah yang hampir selalu pertama kali terlintas, dan tentu saja Luffy makan untuk bisa menjadi raja bajak laut. Itu pula yang pernah Luffy katakan pada Sanji di Whole Cake Island, salah satu kru Topi Jerami sekaligus koki di kapalnya. Tanpa Sanji, ia takkan bisa menjadi Raja Bajak Laut.
Saat itu, Sanji memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari kru topi jerami. Keputusan politik antara Vinsmoke (keluarganya) dengan Big Mom (salah satu Yonko), yang berkelindan dengan ancaman terhadap orang-orang yang dicintainya, membuat Sanji terpojok dan harus menerima kenyataan, mengubur keinginan bertahan menjadi kru Mugiwara dan menemukan All Blue. Mungkin Luffy tahu jika tidak makan ia akan jatuh sakit, dan saat sakit hanya bisa bermimpi untuk pulih, bukan lagi bermimpi menjadi raja bajak laut.
Keengganan Luffy untuk memahami masalah yang berbelit-belit, membuat ia tidak mau tahu persoalan yang dihadapi Sanji. Luffy tidak peduli intrik politik, status ataupun kekuatan para Yonko; yang Luffy tahu Sanji adalah seorang teman yang harus ia lindungi. Itulah kesetiaannya, Luffy yang memulai. Namun sisanya justru karena Sanji adalah koki satu-satunya yang ia miliki. Sebab ketika Sanji pergi, yang hilang bagi Luffy bukan hanya seorang kru, melainkan juga salah satu syarat yang memungkinkan mimpinya tetap hidup.
Melalui kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendasar itulah Luffy memandang dunia. Dari sanalah Luffy mengurai setiap masalah dengan sangat jernih. Sama seperti setiap kali singgah di sebuah pulau dan tidak menemukan daging, Luffy tahu ada persoalan yang tidak beres. Dari persoalan makanan, Luffy membongkar sebuah rantai masalah yang jauh lebih rumit: kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan yang sudah mengakar, yang bahkan masyarakat tidak lagi bisa berharap pada keberadaan pemerintah atau kepanjangannya.
Alih-alih terbebani oleh upaya untuk membenahi kekacauan sosial, motif Luffy justru sesederhana urusan daging. Sifat egoistisnya yang komikal-seperti menolak menjadi pahlawan hanya karena enggan berbagi jatah daging-menunjukkan bahwa ia digerakkan oleh kejujuran pada keinginan dasarnya, bukan kepahlawanan yang heroik. Apa yang Luffy lakukan sebagai seorang bajak laut tidak dilakukan oleh bajak laut lain. Ia justru menjungkirbalikkan standar moralitas. Ketika bajak laut lain menjarah demi kekuasaan, tindakan Luffy didorong oleh empati murni.
Mungkin stempel kejahatan Luffy jauh lebih manusiawi dibanding keadilan pemerintah. Statusnya sebagai seorang bajak laut, tidak sekali membuatnya kejam. Sebut saja Alabasta, Dressrosa, hingga Wano; di pulau-pulau ini Luffy tidak datang membawa kekacauan, melainkan sebagai disrupsi yang meruntuhkan ketertiban semu yang selama ini membelenggu. Hanya karena ada orang baik yang belum makan siang, Luffy meruntuhkan struktur sosial yang menyimpan penindasan.
Sebuah ketimpangan yang oleh tatanan global (World Government) tidak juga dipandang sebagai masalah. Lagipula sedari awal kekuasaan ada untuk kekuasaan itu sendiri, dan mau bagaimanapun kekuasaan, pada akhirnya pasti menemui kebuntuannya. Pun, eksistensi Pemerintah Dunia dalam strukturnya yang tertinggi, justru jauh lebih terasa penting daripada benar-benar berarti. Pemerintah mungkin berhasil menjaga ketertiban, tetapi bagi kekuasaan para tenryubitodan mandor-mandornya di berbagai pulau, bukan dengan membebaskan ribuan budak yang bertekuk lutut dibawahnya.
Itulah sebabnya mengapa narasi dan heroisme palsu terus diproduksi untuk menutupi kegagalan, tapi tentu tidak ada yang berubah. Sebab penderitaan adalah penderitaan-ia memiliki batas toleransinya sendiri. Seperti kata Teach; ‘impian manusia tidak akan pernah berakhir.’ Era akan selalu berganti, membawa tumbuh kembangnya generasi baru yang siap merebut kembali romantisme kebebasan dengan caranya yang berbeda. Ketika kekuasaan tidak lagi memberi cukup ruang untuk hidup, sejarah akan selalu melahirkan kerinduan pada perubahan. Namun tatanan lama tidak runtuh dengan sendirinya secara magis, tidak secara cuma-cuma.
Zaman selalu menunggu seseorang untuk mendobraknya. Seperti sebuah ketukan sejarah, takdir Luffy menemukan jalan. Jalannya kemurnian empati yang secara kebetulan beresonansi dengan kehendak lama (inherent will) Joy Boy. Kehendak itu adalah kesadaran kolektif yang melintasi generasi, yang telah lama mengendap dalam setiap tangis. Ia membutuhkan keteguhan moral untuk meruntuhkan belenggu. Sebab selalu ada keperluan untuk mengurai tindakan penguasa. Tanpa keberanian, apa yang mungkin berubah?
Barangkali, di tengah ruang hidup yang terasing dan tertindas, keberanian sama pentingnya dengan sepiring nasi, untuk hidup. Melalui perkara sepiring itu, Luffy melampaui kebuntuan kekuasaan, pada sesuatu yang sederhana ia kembali. Percakapannya dengan Kaido telah menjadi titik klimaks dari seluruh pertaruhan eksistensinya. Saat itu, Kaido yang sudah berada di puncak keangkuhan, bertanya tentang dunia macam apa yang ingin Luffy ciptakan. Rasa penasaran itu Luffy timpali dengan cukup serius dan berkata:
“Aku ingin membuat dunia di mana teman-temanku bisa makan sampai kenyang.”
Mungkin itu bukan jawaban yang diharap dari seorang bajak laut, sampai seseorang mengalami perihnya menanggung rasa lapar. Luffy tahu hal dasar, bahwa kebebasan hanya mungkin bermula ketika seseorang tidak ada lagi kelaparan. Sebuah manifestasi murni dari pemenuhan kapabilitas (Capability Approach). Yang diinginkan Luffy bukanlah dominasi atas dunia, melainkan dunia yang terbebas dari rasa lapar. Sebab itu, ia tak sempat memikirkan lebih jauh untuk apa kekuasaan atau kemegahan.
Gelar Raja Bajak Laut yang ingin dicapai adalah soal yang lain; ia mengejar karena janji yang pernah diucapkan pada kedua saudaranya dan Shanks. Kalaupun Luffy sudah mendapat semuanya, apalagi setelah itu? Apa arti itu semua tanpa hangatnya persahabatan dan pesta? Menjadi bajak laut adalah perjalanan panjang untuk berbagi, merasakan suka duka di setiap pulau, lalu merayakan pesta bersama. Karena itu, jika pesta yang akan diadakan tidak bisa dinikmati oleh semua orang akibat penderitaan yang masih dialami sebagian, Luffy tidak ragu menundanya.
Luffy bahkan bersedia bertarung mati-matian demi berlangsungnya pesta, di mana semua orang bisa duduk di satu meja. Jika perlu, seluruh harta (uang atau emas) yang ia peroleh sebagai imbalan akan ditukar dengan daging dan memastikan perayaan tetap berlanjut. Luffy tidak pernah gagal memandang manusia dengan caranya yang sederhana; memastikan apakah seseorang dapat hidup, makan, dan tertawa bersama, walau ketidakmauannya memahami dunia melalui bahasa kekuasaan sering membuatnya tampak terlalu jenaka sebagai kapten. Sampai-sampai memaksa Zoro turun tangan mengatasi kekonyolannya.
Sebagai tangan kanan, tentu saja Zoro harus bisa mengarahkan Luffy, untuk kemudian bisa tersesat bersama. Tapi begitulah kepercayaan dalam kru Mugiwara terjalin satu sama lain. Zoro selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk menunjukkan kesetiaan pada sang kapten. Dan, tanpa kelenturan jiwa Luffy mungkin kru Mugiwara sudah lama usai, tidak ada lagi alasan yang memungkinkan hubungan untuk saling melengkapi itu tumbuh. Kenaifannya bukanlah pilihan yang tidak disadari, Luffy selalu tahu siapa yang perlu dihadapi.
Luffy hanya menjadi dirinya, tidak memaksa namun selalu hangat bagi siapa pun. Luffy adalah antitesis dari cara hidup yang kaku, seperti kakunya sebuah hukum yang bertumpu pada nilai kepastian, sementara kehidupan terus bergerak dalam ketidakpastian. Lalu apa artinya kepastian hukum tanpa kepastian untuk hidup? Di mana letak keadilan? Mungkinkah keadilan masih berarti bagi perut yang kosong? Memastikan ketersediaan pangan adalah kepastian yang paling mendesak, di sanalah keadilan menemukan maknanya. Sebab dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan politik dan kekakuan hukum, keadilan yang paling jujur hanyalah satu: Makan dengan kenyang.
Pesta Terakhir: Melepas Beban Harapan
Menjadi seorang yang bebas tidak berarti hidup tanpa aturan, mimpi, atau hasrat. Sebaliknya, kebebasan justru lahir dari sebuah keteraturan internal, sebuah pelajaran berharga yang harus dibayar Luffy lewatPerang Besar di Marineford. Peristiwa tragis itu menjadi titik balik penebusan kerapuhannya. Dan dalam waktu yang lama ia menepi, memilih berhenti sejenak berlatih setelah kematian Portgas D. Ace. Apalagi yang mungkin bisa ia lindungi, jika ia sendiri tetap terjebak dalam kerapuhan? Bisakah Luffy hidup sebagaimana yang ia mau, menikmati sepotong daging atau melihat senyum seorang teman tanpa dihantui ketakutan akan kehilangan?
Tidak ada yang benar-benar beruntung di sini, di tengah kejamnya lautan. Keberuntungan hanya datang setelah seseorang mampu bertanggung jawab atas kerapuhannya sendiri. Masa pengasingan Luffy telah menjadi bagian penting menuju kebebasannya. Tidak ada kebebasan tanpa melalui penderitaan. Selama dua tahun lamanya, bukan hal yang mudah untuk bertahan pada rutinitas yang sama dan berlatih terus-menerus. Tanpa kemampuan untuk menghargai hal-hal yang sederhana, Luffy tidak akan pernah memiliki kedisiplinan dan mustahil baginya bertahan.
Kedisiplinan itulah yang membuat Luffy tumbuh menjadi lebih kuat, untuk sekadar memberi arti pada impiannya. Sebab tentu saja, Luffy tidak hidup untuk mimpi. Impian tak membuatnya melupakan hari yang dilalui. Impian adalah alasannya tertawa, alasannya menikmati perjalanan. Luffy tidak menukar kebahagiaan saat ini, tidak dengan menyia-nyiakan harinya, petualangan hari ini itulah hidupnya. Impian hanyalah kompas, dan cara Luffy menaruh mimpi adalah cermin dari kemampuannya melihat hal yang jauh lebih penting dari mimpi itu sendiri.
Sebab esensi dari sebuah impian bukanlah tentang pencapaian yang ada di ujung jalan, melainkan kualitas jiwa saat sedang berjalan. Lantas, apa artinya impian tanpa kemampuan menikmati setiap jengkal waktu, biarpun semegah apa di ujung Laugh Tale. Sikap itu pula yang membuatnya enggan mengetahui rahasia one piece, sampai-sampai membentak Usopp saat mencoba menanyakan hal itu pada Rayleigh, tangan kanan Raja Bajak Laut Gol D. Roger yang mengerti semua rahasia masa lalu. Usopp mungkin tak mau perjalanannya sia-sia, tetapi petualangan orang lain tidak akan pernah cukup menempanya.
Petualangan sudah sepantasnya menjadi teka-teki, seperti Luffy yang tak sedikit pun menggantungkan dirinya pada hal-hal. Kebebasannya terlalu mutlak untuk dibatasi oleh peta, kompas, atau bahkan takdir itu sendiri. Luffy selalu tahu cara mengisi hari. Laut sudah semestinya menjadi taman bermain tanpa tepi. Ia tidak mencari keamanan di balik kepastian dan justru menemukan rumah dalam ketidakpastian. Saat semua hal menjadi jelas, apa yang mungkin bisa dinikmati, apalagi yang perlu diusahakan?
Selalu ada kalanya ketidaktahuan menjadi kenikmatan, memilah apa yang tidak perlu diketahui. Seperti perjalanan yang perlu menyisakan sebagian tak terjamah, untuk sekadar membuat kehendak itu tetap hidup. Setiap petualangan hanya perlu menjadi kemungkinan, dan justru oleh kemungkinan-kemungkinan itu Luffy bisa terus melangkah dengan kaki telanjang di atas dek, seakan membawa satu keyakinan bahwa selama ia masih bisa menghirup aroma garam, ia sudah memenangkan hidupnya.
Sementara Luffy memenangkan hidupnya, dunia masih saja berusaha mendefinisikannya melalui nilai buronan atau gelar, dan apa pun itu, semua hanyalah angin lalu, dunia hanya perlu dilalui. Seperti itulah Luffy, saat-saat sekelompok bajak laut datang menyerahkan diri untuk menjadi armada besar (Grand Fleet) Mugiwara, ia justru menolak dan melepasnya begitu saja. Luffy menolak sebab yang diinginkan hanya menjadi Raja Bajak Laut, bukan untuk memimpin, melainkan menjadi manusia yang paling bebas dilautan.
Dunia mungkin selalu punya cara untuk mengutuk seseorang, sayangnya Luffy lebih tahu apa yang penting atau memang tidak pernah tertarik pada hal di luar dirinya, entah yang mana. Yang pasti, bagian paling heroik dari Luffy adalah saat ia mampu mengecewakan harapan semua orang. Luffy hanya memilih untuk tidak disalib, ia tidak mau memikul beban yang disebut harapan, sementara manusia terus-menerus menderita dalam penantian yang panjang. Ia membebaskan diri dari penyakit yang sulit disembuhkan.
Harapan tak seharusnya menjelma beban. Tidak semestinya dipanggul, tidak juga untuk ditunggu. Harapan itu adalah daya hidup saat ini, undangan untuk berpesta dan pesta itu adalah harapan yang lain. Sebuah ruang komunal untuk berbagi kehangatan, di mana semua orang bisa menanggalkan jubah kebesaran status, harta, dan kekuasaan. Saat-saat Luffy menyerahkan kembali kedaulatan pulau yang berhasil ia bebaskan, di waktu yang bersamaan ia meruntuhkan sekat-sekat formalitas, menolak mendominasi, dan menggantinya dengan ikatan emosional.
Sebuah ikatan di mana semua orang bisa saling memahami arti kebersamaan. Kesadaran itu yang membuatnya tidak lagi memerlukan status ataupun jabatan. Mungkin pada akhirnya, Luffy juga tidak memerlukan eternal pose untuk menjadi Raja, ia sudah menjadi Raja atas hari-harinya. Luffy selalu tahu apa yang berarti, ia tidak mau menikmati sendiri indahnya perjalanan. Sebab tanpa kehadiran seseorang, segala hal menjadi tidak bernilai sepeser pun. Menjadi raja sekalipun.
Sejak awal perjalanannya, Luffy menyadari bahwa tanpa pundak orang lain yang saling menopang, ia hanyalah seorang yang rapuh. Di hadapan Arlong, Luffy mengakui bahwa ia tidak bisa menggunakan pedang, tidak tahu cara menavigasi lautan, tidak bisa memasak, bahkan tidak bisa berbohong seperti Usopp. Luffy tahu persis, bahwa ia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa uluran tangan orang lain, bahkan di titik terendahnya, hanya dengan mengingat tentang teman-temannya, ia mampu menyelamatkan kewarasannya dari jurang keputusasaan.
Tanpa itu semua, bisa saja perjalanan Luffy berakhir jauh lebih cepat. Sebab di lautan yang kejam, keajaiban tidak pernah bekerja sendirian. Tanpa keteguhan Zoro yang sunyi memikul sekaratnya di Thriller Bark, tanpa kunci lilin penembus batas dari Mr. 3, atau benturan telapak tangan Kuma di Sabaody yang mencerai-beraikan mereka demi menolak kepunahan, semua itu barangkali sudah cukup untuk mengantarnya menjadi debu lautan. Tetapi cara ia memilih tetap biasa bahkan setelah semua yang dicapai, telah mengajari satu hal; bahwa hidup, nyatanya adalah sebuah altar pengorbanan kolektif-Luffy ada karena yang lain merelakan sebagian dirinya.
Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus diperlakukan layaknya seorang teman, bahkan musuh sekalipun sama berharganya untuk diberi pelajaran. Luffy, boleh saja tidak tahu sampai di mana sosok seperti Kapten Smoker, Crocodile, hingga Sentomaru-pengendali robot Pacifista- memilih menepis sejenak ego mereka dan berbalik menolongnya. Namun lautan tahu mereka semua bergerak bukan karena sentimentalitas yang naif, melainkan karena satu hal yang sejak awal telah Luffy tanam.
Kebebasannya untuk melampaui batas ego, mampu menghapus jarak dengan siapa pun. Luffy hanya melihat manusia, ia tidak melihat lencana Marine atau jubah bajak laut sebagai musuh; sekalipun harus melawan, itu karena ketulusannya berbenturan dengan watak yang destruktif. Mungkin di sanalah sebuah tatanan dunia baru sedang dibentang melalui caranya memandang, di mana kebebasan tidak lagi berarti saling berbenturan, melainkan ketulusan untuk saling menjaga. Luffy sudah memulai, tetapi sisanya bergantung pada masing-masing.
Memang tidak mudah membayangkan sebuah dunia di mana semua orang hidup dengan tulus. Sebab mewujudkan dunia yang begitu, sama peliknya untuk sekadar duduk sendiri dengan tenang. Ketenangan seperti itu tidak bisa dipaksa, ia membutuhkan keluasan ruang batin. Di situlah ketulusan bertumbuh, bukan karena seseorang menjadi lemah, melainkan telah selesai dengan hasrat untuk selalu menang, memiliki atau menguasai. Tanpa keluasan semacam itu, apa yang tampak sebagai ketulusan hanya akan melahirkan Crocodile yang lain.
Kenyataannya, ketulusan selalu menuntut keberanian yang jauh lebih besar, sebab hanya mereka yang selesai dengan dirinya yang mampu melepas hasrat untuk menguasai. Bukankah Gol D. Roger juga tidak menemukan takhta untuk diduduki, melainkan sebuah tawa-sebuah isyarat untuk melepas kendali? Mengapa ia tertawa? Mungkin karena di ujung perjalanannya, Roger mendapati dirinya bodoh sekaligus cerdas.
Roger merasa bodoh sebab, bayangkan, seumur hidupnya ia mengerahkan seluruh daya, kejeniusan, dan ambisinya untuk memecahkan teka-teki terbesar one piece, tapi yang didapati hanyalah cerita peninggalan Joy Boy. Warisan yang tidak lekang oleh waktu itu justru telah mengunci langkahnya di antara beban sejarah dan batas takdir yang tidak bisa dilawan. Ia datang terlalu cepat. Tetapi di detik yang sama, sesuatu berubah, dan disanalah Roger menertawakan nasibnya. Roger menyadari takdir tidak memilihnya menjadi sang pembebas hari itu, maka kecerdasannya memilih untuk membuka gerbang lahirnya era bajak laut.
Kesadaran itulah yang menggugahnya tertawa. Ia menjadi tahu apa yang harus dilakukan, kemana sejarah harus bergerak. Roger tidak melewatkan kesempatan. Ia menyerahkan diri untuk merebut kendali penuh panggung eksekusi dari tangan Pemerintah Dunia. Roger menggunakan panggung kematian untuk mengeksekusi tujuaannya. Roger mungkin kehilangan nyawa, tetapi bersama kematiannya ia berhasil memegang kendali atas arus sejarah. Ia meninggalkan warisan dengan tawa untuk menjaga lautan tetap bising, liar, dan bebas, sampai waktu menjemput orang yang tepat.
Tawa itu menjelma gaung bagi siapapun yang berani mempertanyakan tatanan. Kematiannya barangkali sudah cukup untuk membuat Pemerintah Dunia terlihat pintar, bahkan nyaris gagah. Padahal yang terjadi mereka sedang menukar ketenteraman dengan gelombang kehancuran. Warisan Roger sedang bekerja. Lihatlah tatanan dunia itu, diatur sedemikian rumit, penuh intrik geopolitik, dijaga ketat Armada Angkatan Laut, tetapi perlahan remuk bukan oleh grand design strategi militer, melainkan oleh ketulusan seorang anak yang menganggap seluruh konflik global hanya sebagai gangguan yang menunda waktu pestanya.
Mungkin akhirnya one piece bukanlah sesuatu yang ditemukan di ujung lautan, bukan sebuah harta, takhta, atau otoritas mutlak. One piece adalah kemungkinan yang ada disini, saat ini, saat semua orang tertawa, makan, dan hidup tanpa rasa takut. Kenyataannya, ditangan Luffy, mitos kekuasaan one piece tidak lebih menarik daripada sepotong daging dan denting cawan di atas Meja. Sebab dunia yang indah tidak dibangun oleh otoritas, melainkan oleh kesadaran untuk saling memahami. Satu Meja jauh lebih berarti daripada Otoritas Pusat.
_____
*Penulis: M. R. Firdausi






