BOGOTA — Senator Kolombia Miguel Uribe, yang digadang-gadang sebagai calon presiden pada Pemilu 2026, menjalani operasi darurat setelah ditembak saat menghadiri acara kampanye di Bogota, Sabtu (7/6/2025). Ia saat ini masih dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Fundación Santa Fe.
Uribe (39), anggota Partai oposisi sayap kanan Centro Democrático, dilaporkan mengalami luka tembak di kepala saat berada di taman umum di kawasan Fontibón, Bogota. Insiden itu terjadi di tengah kegiatan yang disebut-sebut sebagai bagian dari langkah awal menuju pencalonannya di pemilihan presiden mendatang.
Kantor Kejaksaan Agung Kolombia mengonfirmasi bahwa seorang remaja laki-laki di bawah usia 15 tahun telah ditangkap terkait insiden tersebut. Tersangka kedapatan membawa pistol jenis Glock 9 milimeter. Pemerintah tengah menyelidiki kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam serangan ini.
Presiden Kolombia Gustavo Petro telah menyerukan penyelidikan menyeluruh atas motif penyerangan, termasuk kemungkinan aktor intelektual yang berada di balik aksi kekerasan tersebut. Dalam pernyataannya, Petro juga mengkritisi dugaan kelalaian dalam prosedur keamanan terhadap pejabat publik.
Menurut pernyataan resmi dari rumah sakit, Uribe menjalani prosedur operasi pada bagian kepala dan paha kirinya. Meski dinyatakan stabil pascaoperasi, kondisinya masih terus dipantau secara intensif. “Setiap jam adalah waktu kritis,” ujar sang istri, Maria Claudia Tarazona, kepada media lokal, dikutip Senin (9/6). “Dia bertahan dalam operasi, dan sekarang kita berharap yang terbaik.”
Uribe dikenal berasal dari keluarga politik berpengaruh. Kakeknya pernah menjabat sebagai Presiden Kolombia pada 1978–1982, sementara ibunya, jurnalis Diana Turbay, tewas dalam operasi penyelamatan setelah diculik kelompok bersenjata di bawah komando bos kartel narkoba Pablo Escobar pada 1991.
Partai Centro Democrático mengonfirmasi bahwa Uribe ditembak dari belakang oleh pelaku. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan Uribe terkapar dengan luka di kepala, sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari tim medis.
Wali Kota Bogota Carlos Galan, yang ayahnya dibunuh dalam kampanye presiden pada 1989 mengunjungi rumah sakit dan meminta pengamanan ditingkatkan untuk semua kandidat serta keluarga Uribe. Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang dinilainya sebagai ancaman nyata terhadap demokrasi.
Pemerintah Kolombia menawarkan hadiah sebesar 3 miliar peso (setara sekitar 730.000 dolar AS) bagi siapa pun yang memiliki informasi terkait penembakan tersebut. Presiden Petro menegaskan, pihak berwenang juga akan menyelidiki apakah terjadi kelalaian dalam protokol pengamanan pejabat tinggi.
Serangan terhadap Uribe menuai kecaman dari sejumlah negara termasuk Brasil, Italia, Spanyol, Uruguay, Paraguay, serta pemerintah dan oposisi Venezuela. Senator AS Marco Rubio dalam pernyataannya mengutuk serangan tersebut, dan menuding retorika Presiden Petro sebagai pemicu meningkatnya ketegangan politik.
Sementara itu, warga Kolombia terlihat berkumpul di luar rumah sakit, menyalakan lilin dan menggelar doa bersama untuk kesembuhan Uribe. Aksi solidaritas dan pawai dukungan dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam di sejumlah kota.
Serangan ini menjadi pengingat atas sejarah panjang kekerasan politik di Kolombia, yang selama beberapa dekade terakhir dilanda konflik antara pemberontak kiri, kelompok kriminal paramiliter, dan aparat negara.(*)






