Senioritas Kampus: Tradisi yang Perlu Dipertanyakan

  • Bagikan
Senioritas Kampus: Tradisi yang Perlu Dipertanyakan

Teras EsJe – Masuk perguruan tinggi seharusnya menjadi awal yang menyenangkan bagi mahasiswa baru. Mereka datang dengan harapan mendapat teman, belajar banyak hal, dan mulai menata masa depan. Karena itu, kegiatan pengenalan kampus semestinya membantu mereka merasa diterima. Sayangnya, tujuan tersebut bisa hilang ketika kegiatan justru diisi perlakuan yang membuat peserta takut atau malu.

Bayangkan seorang mahasiswa baru melakukan kesalahan kecil, lalu dijadikan bahan ejekan di depan peserta lain. Ketika ia terlihat keberatan, muncul jawaban, “Begitu saja kok tersinggung.” Dalam keadaan seperti ini, masalahnya bukan sekadar perbedaan selera humor. Ada orang yang merasa direndahkan, tetapi tidak memiliki cukup ruang untuk menyampaikan keberatannya.

Menurut saya, kebiasaan membenarkan perlakuan semacam itulah yang perlu dihentikan. Kampus memang perlu mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Namun, keduanya dapat dibangun melalui aturan yang masuk akal dan contoh yang baik. Tidak ada alasan untuk menjadikan penghinaan sebagai syarat agar mahasiswa dianggap kuat atau layak diterima dalam pergaulan.

Karena itu, tradisi senioritas di kampus perlu dipertanyakan kembali, terutama ketika kebiasaan yang diwariskan justru mengabaikan rasa hormat dan martabat mahasiswa baru. Tradisi yang telah berlangsung lama tidak otomatis menjadi tradisi yang baik. Ukurannya seharusnya terletak pada manfaat yang diberikan dan dampaknya bagi mahasiswa yang mengikutinya.

 Ketika Senioritas Kehilangan Makna Membimbing

Hubungan antara senior dan mahasiswa baru sebenarnya bisa memberi banyak manfaat. Senior dapat membantu menjelaskan cara mengikuti perkuliahan, mengenalkan organisasi, atau berbagi pengalaman menghadapi tugas. Bagi mahasiswa yang merantau, kehadiran mereka bahkan bisa menjadi tempat bertanya ketika belum mengenal lingkungan kampus.

Hubungan itu menjadi persoalan saat pengalaman dan perbedaan angkatan dipakai untuk menuntut kepatuhan tanpa batas. Mahasiswa baru seolah harus selalu menurut karena takut dianggap melawan. Padahal, menghormati senior tidak berarti menyerahkan hak untuk menolak perlakuan yang merendahkan. Rasa hormat juga perlu ditunjukkan senior kepada mahasiswa yang dibimbingnya.

Tentu tidak semua teguran dapat disebut perundungan. Panitia tetap boleh mengingatkan peserta yang terlambat atau tidak menjalankan tugas. Perbedaannya terletak pada cara dan tujuan teguran diberikan. Menjelaskan kesalahan akan membantu peserta memperbaiki diri. Sebaliknya, mengejek keadaan fisik atau mempermalukan seseorang secara berulang hanya membuatnya merasa tidak dihargai.

Alasan “dari dulu juga begitu” pun tidak cukup untuk mempertahankan sebuah kebiasaan. Mahasiswa yang pernah menerima perlakuan buruk justru mempunyai kesempatan untuk menghentikannya. Pengalaman tersebut seharusnya membantu mereka memahami perasaan junior, bukan menjadi pembenaran untuk melakukan hal serupa. Tradisi perlu dinilai dari manfaatnya bagi peserta, bukan semata-mata dari lamanya tradisi tersebut berlangsung.

BACA JUGA:  Mantra Majnun (Resensi Buku Layla & Majnun, Kisah Cinta Klasik dari Negeri Timur, Ditulis Oleh Nizami 2009)

Penelitian Najwa Shabrina Dinanty, Amanda Juliani Putri, dan Gazali Rahman (2023) mengenai budaya senioritas dan perundungan oleh mahasiswa di lingkungan kampus dapat menjadi bahan untuk memahami persoalan ini. Kajian tersebut membahas hubungan budaya senioritas dengan tindakan yang merugikan mahasiswa. Hal ini memperlihatkan pentingnya melihat senioritas bukan hanya sebagai hubungan antara mahasiswa dari angkatan berbeda, tetapi juga dari cara hubungan tersebut dijalankan.

Menurut saya, persoalan senioritas juga berkaitan dengan ketimpangan posisi antara senior dan mahasiswa baru. Senior biasanya lebih mengenal lingkungan kampus, memiliki pengalaman organisasi, dan memahami aturan kegiatan. Sebaliknya, mahasiswa baru masih berusaha menyesuaikan diri. Perbedaan ini sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi senior untuk membimbing. Namun, ketika posisi tersebut digunakan untuk menuntut kepatuhan tanpa memberi ruang untuk bertanya atau menolak, hubungan yang seharusnya mendidik justru berubah menjadi tekanan.

Keadaan ini dapat membuat perundungan terus berulang. Mahasiswa baru mungkin memilih diam karena khawatir dianggap tidak menghormati senior, dijauhi teman, atau mengalami kesulitan ketika mengikuti kegiatan berikutnya. Ketika tidak ada yang berani menyampaikan keberatan, pelaku dapat menganggap tindakannya sebagai sesuatu yang dapat diterima. Sementara itu, mahasiswa lain yang menyaksikan kejadian tersebut mungkin ikut diam karena tidak ingin terlibat. Akibatnya, kebiasaan yang merugikan dapat bertahan bukan hanya karena tindakan pelaku, tetapi juga karena lingkungan membiarkannya.

Di sinilah pentingnya membedakan tradisi yang bermanfaat dengan kebiasaan yang sekadar diwariskan. Tradisi yang baik membantu mahasiswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan. Sebaliknya, tradisi yang mengandalkan rasa takut tidak otomatis membentuk kedisiplinan. Kampus perlu berani mengevaluasi kegiatan yang selama ini dianggap biasa, bukan hanya karena kegiatan tersebut sudah berlangsung lama, melainkan berdasarkan manfaat dan dampaknya bagi mahasiswa.

Hal ini membuat saya berpandangan bahwa kegiatan mahasiswa juga perlu mencerminkan nilai yang dipelajari di ruang kuliah. Membahas sikap saling menghargai akan terasa janggal apabila ejekan terus dibiarkan dalam kegiatan organisasi. Mahasiswa membutuhkan contoh yang dekat dengan keseharian, termasuk dari senior dan dosen yang mendampingi mereka. Pendidikan tentang etika dan kemanusiaan seharusnya tidak berhenti pada materi perkuliahan, tetapi terlihat dalam perilaku sehari-hari.

BACA JUGA:  Dari Sastra Inggris ke Psikologi: Cerita Saya Nekat Lintas Jurusan di Bangku Magister

Membangun Kampus yang Berani Mendengar

Perubahan dapat dimulai dengan memperjelas tujuan kegiatan pengenalan kampus. Peserta seharusnya pulang dengan memahami layanan akademik, mengenal lingkungan belajar, dan memiliki teman baru. Jika sebuah tugas tidak membantu tujuan tersebut dan hanya membuat peserta malu, panitia perlu mempertimbangkan kembali alasan tugas itu diberikan.

Kampus juga perlu memastikan bahwa batas perilaku dipahami sebelum kegiatan dimulai. Panitia harus mengetahui cara menegur yang pantas, sementara peserta perlu diberi kesempatan bertanya atau menyampaikan keberatan. Bertanya bukan berarti tidak disiplin. Penjelasan yang terbuka justru membantu mahasiswa memahami tanggung jawabnya tanpa harus merasa ditekan.

Selain pencegahan, harus ada tempat mengadu yang dapat dipercaya. Mahasiswa perlu mengetahui siapa yang bisa dihubungi ketika mengalami perlakuan tidak pantas. Jika masalah melibatkan panitia, pengaduan tidak semestinya hanya ditangani panitia tersebut. Pihak kampus perlu menyediakan jalur lain agar mahasiswa tidak merasa bergantung kepada orang yang dikeluhkan.

Setiap laporan perlu diperiksa dengan mendengarkan pihak terkait dan memperhatikan bukti yang tersedia. Identitas pelapor harus dijaga, begitu pula keamanannya setelah melapor. Jangan sampai mahasiswa diminta berani berbicara, tetapi kemudian dibiarkan menghadapi ancaman atau pengucilan. Kepercayaan terhadap saluran pengaduan tumbuh dari penanganan yang nyata, adil, dan tidak memihak.

Rekan mahasiswa pun dapat membantu melalui tindakan sederhana. Tidak ikut menertawakan ejekan, menemani teman mencari bantuan, atau menjelaskan kejadian yang disaksikan dapat menjadi dukungan berarti. Namun, tanggung jawab penyelesaian tetap perlu dijalankan pihak kampus. Korban dan teman-temannya tidak seharusnya dibebani untuk membereskan persoalan ini sendiri.

Pada akhirnya, mengubah budaya senioritas tidak cukup dengan mengganti beberapa aturan atau menyampaikan imbauan sebelum kegiatan dimulai. Kampus juga perlu mengevaluasi kebiasaan yang berlangsung, mendengarkan pengalaman mahasiswa, dan memastikan bahwa pelanggaran ditangani secara adil. Tanpa langkah nyata, larangan perundungan hanya akan menjadi aturan tertulis yang tidak tercermin dalam kehidupan kampus.

Bagi saya, kampus yang mendidik adalah kampus yang memberi kesempatan untuk belajar tanpa kehilangan harga diri. Kedisiplinan tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan penghormatan. Sudah waktunya senioritas digunakan untuk membimbing dan tradisi diperiksa kembali manfaatnya. Mahasiswa baru datang untuk menempuh pendidikan, bukan untuk membuktikan seberapa banyak penghinaan yang sanggup mereka tahan.

_____
*Penulis: Ratu Balqist Az Zahra (Mahasiswa Program Studi S1 Farmasi, Universitas Muhammadiyah Malang)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *