Mahasiswa dan Tekanan Media Sosial

  • Bagikan
Mahasiswa dan Tekanan Media Sosial

Teras EsJe – Di tengah perkembangan teknologi dan pesatnya penggunaan media sosial, mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan dalam kehidupan perkuliahan. Mereka tidak hanya dituntut untuk mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga diharapkan aktif dalam organisasi, memiliki banyak pengalaman, dan mampu meraih prestasi. Akibatnya, sebagian mahasiswa merasa harus selalu berhasil agar tidak dianggap tertinggal dari orang lain.

Fenomena ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika membuka Instagram atau TikTok, kita dapat melihat teman yang memenangkan perlombaan, mendapatkan beasiswa, mengikuti kegiatan di luar kampus, atau membagikan pencapaiannya. Tanpa disadari, hal tersebut dapat membuat mahasiswa membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka merasa bahwa orang lain sudah melangkah jauh, sedangkan dirinya masih berada di tempat yang sama.

Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan yang muncul tanpa alasan. Penelitian Ramadhani dan Ardelia (2025) dalam Character menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara perbandingan sosial dan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Artinya, semakin tinggi kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin tinggi pula kecemasan yang berkaitan dengan perbandingan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri di media sosial patut menjadi perhatian. Padahal, kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan keadaan seseorang secara keseluruhan. Kita mungkin melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui kesulitan, kegagalan, dan usaha yang telah dilaluinya. Jika terus membandingkan diri dengan orang lain, mahasiswa dapat melupakan perkembangan yang sebenarnya sudah mereka capai.

Memiliki keinginan untuk berprestasi merupakan hal yang positif. Prestasi dapat mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Namun, keinginan tersebut dapat berubah menjadi tekanan ketika keberhasilan dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai diri sendiri. Sebagian mahasiswa merasa gagal hanya karena mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Ada pula yang merasa tidak berkembang karena belum mengikuti organisasi atau belum memiliki pengalaman sebanyak teman-temannya. Bahkan, beberapa mahasiswa mungkin enggan mencoba hal baru karena takut melakukan kesalahan dan mendapatkan penilaian buruk dari orang lain.

BACA JUGA:  Dari Munir Hingga Kini: Pancarobanya Hak Asasi Manusia di Republik Ini

Pola pikir seperti ini perlu diperbaiki. Kehidupan perkuliahan seharusnya menjadi tempat untuk belajar, mencoba, dan menemukan kemampuan diri, bukan sekadar ajang untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Ada yang unggul dalam bidang akademik, ada yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan ada pula yang masih berusaha menemukan minat serta potensinya. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa rendah diri.

Media sosial memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa. Selain mempermudah akses informasi, media sosial juga dapat digunakan untuk belajar, memperluas pergaulan, dan memperoleh inspirasi. Namun, penggunaannya perlu disertai kesadaran agar tidak menimbulkan tekanan yang berlebihan. Peran perbandingan sosial dalam hubungan antara perilaku berjejaring sosial dan kecemasan sosial pada mahasiswa. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana kebiasaan membandingkan diri dapat berkaitan dengan kecemasan sosial di kalangan mahasiswa.

Karena itu, mahasiswa perlu menggunakan media sosial secara lebih bijak. Membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang bermanfaat, dan berhenti mengikuti akun yang terus-menerus memicu perasaan rendah diri dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kenyamanan dalam menggunakan media sosial. Salah satu hal penting yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa adalah keberanian menghadapi kegagalan. Kegagalan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari, melainkan bagian dari proses pembelajaran.

BACA JUGA:  Engkau, Kupu-Kupu di Taman Bunga Firdaus

Ketika mahasiswa berani mencoba hal baru, mereka memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan kemampuan. Jika hasilnya belum sesuai harapan, mereka dapat mengevaluasi kekurangan dan memperbaikinya. Sebaliknya, jika terus-menerus takut gagal, kesempatan untuk berkembang justru semakin terbatas.Perguruan tinggi juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar tersebut. Mahasiswa seharusnya tidak hanya dihargai berdasarkan nilai atau prestasi yang diraih, tetapi juga berdasarkan usaha, perkembangan, dan kemauan mereka untuk belajar. Selain itu, mahasiswa perlu menetapkan target yang realistis sesuai dengan kemampuan masing-masing. Memiliki tujuan memang penting, tetapi tujuan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menikmati proses perkuliahan.Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan berarti harus selalu lebih unggul daripada orang lain.

Masa kuliah merupakan kesempatan untuk mengenal diri sendiri, memperluas wawasan, membangun hubungan, dan mempersiapkan masa depan. Setiap mahasiswa memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara terus-menerus bukanlah cara yang tepat untuk mengukur keberhasilan. Hal yang lebih penting adalah mengetahui perkembangan diri sendiri dan berusaha menjadi lebih baik daripada sebelumnya.Kita perlu berhenti menganggap bahwa orang yang lebih cepat mencapai sesuatu pasti lebih berhasil. Tidak masalah jika hari ini kita masih belajar, masih melakukan kesalahan, atau belum mencapai target yang diinginkan.

_____
*Penulis: Syafiah Ahmad Mulia Febrianti, mahasiswa Program Studi S1 Farmasi, Universitas Muhammadiyah Malang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *