Kampus Nyaman di Mulai Dari Kita

  • Bagikan
Kampus Nyaman di Mulai Dari Kita

Teras EsJe – Kampus bukan hanya tempat untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, kampus juga menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai macam orang dengan sifat, kebiasaan, dan latar belakang yang berbeda. Dari perbedaan tersebut, mahasiswa dapat belajar tentang toleransi, kerja sama, dan cara menghargai orang lain. Namun, kehidupan kampus tidak selalu berjalan dengan baik. Salah satu masalah yang masih sering terjadi adalah bullying atau perundungan.

Bullying di lingkungan kampus merupakan masalah yang tidak boleh dianggap sepele. Perundungan dapat membuat mahasiswa merasa tidak nyaman, kehilangan kepercayaan diri, bahkan kesulitan menjalani aktivitas perkuliahan. Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan membangun hubungan sosial tanpa merasa takut direndahkan oleh orang lain.

Bentuk Bullying dan Dampaknya terhadap Mahasiswa

Bullying di kampus dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah mengejek teman berdasarkan penampilan, cara berbicara, kemampuan belajar, atau kondisi ekonomi. Selain itu, mengucilkan seseorang dari kelompok pertemanan juga termasuk bentuk perundungan yang sering kali tidak disadari. Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang yang mengalaminya, perlakuan seperti itu bisa menimbulkan rasa sedih dan membuat mereka merasa tidak diterima di lingkungan kampus. Perundungan juga dapat terjadi melalui media sosial. Contohnya adalah mengunggah foto seseorang tanpa izin, memberikan komentar yang menghina, atau menyebarkan informasi pribadi untuk dijadikan bahan lelucon. Tindakan seperti ini dapat menyebar dengan cepat dan dilihat oleh banyak orang. Akibatnya, korban bisa merasa malu, cemas, stres, bahkan mengalami gangguan kesehatan mental.

BACA JUGA:  Menyoal Kredibilitas Sistem Peradilan di Indonesia dan Menguak Isu Terbaru dalam Hukum serta Tantangan untuk Mencapai Keadilan

Salah satu hal yang membuat bullying sulit disadari adalah anggapan bahwa tindakan tersebut hanya bercanda. Padahal, tidak semua candaan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Bercanda seharusnya membuat orang merasa senang, bukan justru merasa direndahkan atau tersakiti. Jika seseorang sudah menunjukkan ketidaknyamanan, tetapi tindakan yang sama terus dilakukan, berarti candaan tersebut telah melewati batas. Dampak bullying juga dapat dirasakan dalam kehidupan perkuliahan sehari-hari. Mahasiswa yang menjadi korban mungkin merasa minder, malu, dan takut berinteraksi dengan teman-temannya. Mereka bisa kehilangan keberanian untuk bertanya atau menyampaikan pendapat di kelas karena khawatir akan diejek. Bahkan, kegiatan yang seharusnya menyenangkan, seperti belajar bersama, mengikuti organisasi, atau menjalin pertemanan, bisa terasa tidak nyaman. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menghambat perkembangan akademik maupun sosial mahasiswa.

Membangun Kampus yang Lebih Aman

Menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Setiap mahasiswa perlu belajar menghargai perbedaan dan lebih berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak. Kita tidak perlu menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, apalagi hanya untuk mendapatkan perhatian atau membuat teman-teman tertawa.  Selain itu, kita juga perlu berani menunjukkan kepedulian ketika melihat seseorang mengalami bullying. Tidak ikut menertawakan korban, memberikan dukungan, dan membantu mereka mencari pertolongan merupakan langkah kecil yang berarti. Sikap diam memang tidak selalu berarti mendukung perundungan, tetapi membiarkan korban menghadapi situasi tersebut sendirian dapat membuat mereka semakin merasa terasing.

Pihak kampus juga memiliki tanggung jawab untuk mencegah terjadinya bullying. Kampus perlu memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang bentuk-bentuk perundungan dan dampaknya, serta menyediakan saluran pengaduan yang jelas dan mudah diakses. Dengan begitu, mahasiswa yang mengalami atau menyaksikan bullying dapat mengetahui ke mana harus melapor dan meminta bantuan. Hubungan antara senior dan junior, kegiatan organisasi, kerja kelompok, serta kegiatan pengenalan kampus juga seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kebersamaan. Tidak seharusnya kegiatan tersebut dijadikan alasan untuk merendahkan, mempermalukan, atau menekan mahasiswa lain. Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang baik, terlepas dari angkatan, kemampuan, penampilan, maupun latar belakangnya.

BACA JUGA:  UU TNI, Ancaman terhadap Demokrasi atau Kebutuhan untuk Keamanan Negara?

Bullying di kampus merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan akademik mahasiswa. Perundungan dapat muncul dalam bentuk ejekan, pengucilan, maupun tindakan melalui media sosial. Sayangnya, tindakan tersebut masih sering dianggap sebagai candaan, padahal dapat menyakiti dan membuat orang lain kehilangan rasa percaya diri. Menciptakan kampus yang aman bukan hanya tanggung jawab pihak kampus, melainkan juga tanggung jawab setiap mahasiswa. Kita dapat memulainya dengan menjaga ucapan, menghargai perbedaan, tidak ikut menertawakan orang lain, dan memberikan dukungan kepada mereka yang menjadi korban bullying.

Pada akhirnya, kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu, tetapi juga tempat untuk belajar memahami dan menghargai sesama. Perbedaan yang ada di antara mahasiswa bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka dan peduli. Dengan membangun sikap saling menghargai, kita dapat menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman, nyaman, dan menerima setiap mahasiswa apa adanya.

_____
*Penulis: Chintya Kirania Hartanty (Mahasiswa Program Studi S1 Farmasi, Universitas Muhammadiyah Malang)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *